Kamis, 01 Maret 2012

Laporan Ilmu ternak unggas


LAPORAN PRAKTIKUM
ILMU TERNAK UNGGAS
SISTEM DIGESTI DAN REPRODUKSI AYAM





Disusun oleh:

Akhmad Fathoni
10/301316/PT/05853
Kelompok XXIV

Asisten Pendamping: Umi Khasanah


LABORATORIUM ILMU TERNAK UNGGAS
BAGIAN PRODUKSI TERNAK
FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2011






SISTEM DIGESTI DAN REPRODUKSI

WAKTU PELAKSANAAN
            Praktikum Ilmu Ternak Unggas  acara sistem digesti dan reproduksi ayam dilaksanakan pada hari Kamis, 20 Oktober 2011 pukul 13.00 WIB sampai 16.30 WIB.

TEMPAT PELAKSANAAN
            Praktikum Ilmu Ternak Unggas acara sistem digesti dan reproduksi ini dilaksanakan di Laboratorium Ilmu Ternak Unggas Bagian Produksi Ternak Fakultas Peternakan, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

TUJUAN DAN MANFAAT PRAKTIKUM
            Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui tentang sistem digesti dan reproduksi ayam, meliputi anatomi, fungsi, ukuran berat, dan organ-organ tambahan yang berperan dalam sistem digesti ayam. Manfaat dari praktikum ini adalah praktikan dapat memahami dengan jelas mengenai sistem digesti dan reproduksi ayam, meliputi anatomi, fungsi, ukuran berat, dan organ-organ tambahan yang berperan dalam sistem digesti ayam.



MATERI DAN METODE

Materi
            Alat. Alat yang digunakan pada praktikum ini adalah pisau scapel, pita ukur, alas plastik ukuran 50cmx100cm, timbangan elektrik dengan kapasitas 2 kg, dan gunting bedah merk JMC.

            Bahan. Bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah 1 ekor ayam layer segar yang telah disembelih, masih dalam keadaan utuh dan berumur 72 minggu dengan berat ayam 1266 gram.

Metode
            Disediakan 1 ekor ayam layer segar yang telah disembelih, telah dikuliti dan masih dalam keadaan segar di atas meja. Diberikan alas plastik ukuran 100x50 cm di bawah ayam tersebut oleh praktikan. Ayam kemudian ditimbang lalu dibedah dan dikeluarkan seluruh organ pencernaan beserta organ reproduksinya kemudian diletakkan di atas alas plastik yang diatur secara utuh dan digambar. Masing-masing organ pencernaan dan reproduksi tersebut kemudian dijelaskan oleh asisten pendamping mengenai letak, fungsi dan diakhiri dengan presentasi oleh praktikan. Organ pencernaan beserta organ reproduksi ayam tersebut kemudian dipotong perbagian, dikeluarkan kotorannya, kemudian dicuci lalu ditimbang dan diukur, dicatat berat dan panjang masing-masing organ, dan difoto per bagian.



HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil
            Berdasarkan hasil pengukuran dan penimbangan yang telah dilakukan dalam praktikum Ilmu Ternak unggas acara sistem digesti dan reproduksi diperoleh data sebagai berikut:

Tabel 1. Organ digesti ayam layer
Parameter
Ayam A (Kelompok 24)
Ayam B (Kelompok 21)
Panjang     (cm)
Berat (g)
Panjang (cm)
Berat (g)
Oesophagus
27
15,4
19
6
Crop
-
8,8
-
 5
Proventikulus
11
6
3
7
Ventrikulus
-
21,4
-
33

Usus halus:




Duodenum
 30
5,8
53
10 
Jejunum
75
11
30
4
Ilieum
 63
7,2
59
8
Coecum
  38
 5,2
30
5
Usus besar
13
  3,6
9
 2,5
Kloaka
-
  3,6
-
 10

Tabel 2. Organ digesti tambahan ayam layer
Parameter
Ayam A (Kelompok 24)
Ayam B (Kelompok 21)
Panjang (cm)
Berat (g)
Panjang (cm)
Berat (g)
Hati
-
26,8
-
56
Pankreas
-
2,8
-
2
Limfa
-
1,2
-
5




Tabel 3. Sistem reproduksi ayam betina
Parameter
Ayam A (Kelompok 24)
Ayam B (Kelompok 21)
Panjang (cm)
Berat (g)
Panjang (cm)
Berat (g)
Ovarium+ovum
-
28
-
1
Infundibulum
17
2
4
1,6
Magnum
29
24
31
1
Isthmus
14
5,4
5,8
5,8
Uterus
6
1,6
5
2
Vagina
10
18
3
3



Pembahasan

Sistem Digesti
        Berdasarkan hasil pengamatan yang telah diperoleh dapat diketahui bahwa sistem digesti ayam mulai dari pakan masuk sampai keluar sebagai ekskreta antara lain mulut/paruh, oesophagus, crop (tembolok), proventriculus, gizzard (empedal/ventrikulus), small intestinum yang terdiri atas duodenum, jejunum, dan ileum, coecum, usus besar(rektum), dan kloaka. Ayam yang digunakan dalam praktikum ini merupakan ayam jenis layer, umur 72 minggu dengan berat ayam 1266 gram untuk ayam A dan 1557 untuk ayam B.
Menurut Yuwanta (2008), panjang alat pencernaan pada ayam sekitar 245-255 cm, tergantung pada umur dan jenis ayam. Prinsip pencernaan pada ayam ada tiga macam, yaitu pencrnaan secara mekanik (fisik), pencernaan secara kima (enzimatik), dan pencernaan secara mikrobiologik. Secara umum pencernaan pada unggas meliputi aspek digesti, absorpsi dan metabolisme.
            Mulut. Berdasarkan hasil pengamatan, diketahui mulut ayam berbentuk seperti corong yang runcing dan didalamnya terdapat lidah yang tebal. Menurut Yuwanta (2008), mulut menghasilkan saliva yang mengandung amilase dan maltase saliva dan produksi saliva 7 sampai 30 ml/ hari tergantung pada jenis pakan. Pemecahan bahan pakan di milut kecil sekali karena mulut hanya digunakan untuk lewat sesaat. Menurut Akoso (1998), mulut ayam tidak memiliki bibir dan gigi. Peranan bibir dan gigi pada ayam digantikan oleh rahang yang menanduk dan membentuk paruh.
Oesophagus. Menurut Yuwanta (2008), oesophagus merupakan saluran lunak dan elastis yang mudah mengalami pemekaran apabila ada bolus yang masuk. Oesophagus memanjang dari pharynx hingga proventrikulus melewati tembolok (crop). Berdasarkan hasil pengukuran dan penimbangan dalam praktikum diketahui bahwa panjang oesophagus ayam A adalah 27 cm dengan berat 15,4 gram, sedangkan oesophagus ayam B panjangnya 19 cm dengan berat 6 gram. Menurut Neil (1991), panjang oesophagus antara 20 sampai 25 cm dan berat antara 5 sampai 7,5 gram. Panjang oesophagus ayam A lebih panjang dari pada kisaran normal sedangkan panjang oesophagus ayam B relatif mendekati kisaran normal. Berat  oesophagus ayam A jauh lebih besar dari kisaran normal sedangkan berat oesophagus ayam B berada pada kisaran normal. Menurut Blakely dan Bade (1991), perbedaan ukuran panjang oesophagus dapat dipengaruhi oleh ukuran ayam, jenis ayam, dapat juga dikarenakan konsumsi pakan yang tidak tepat, serta dipengaruhi oleh umur, kesehatan ayam dan straim ayam. Sedangkan menurut Yuwanta (2008), panjang alat pencernaan pada ayam tergantung pada umur dan jenis ayam.
Tembolok (crop). Tembolok (crop) mempunyai kapasitas 250 g dalam menampung pakan. Tembolok merupakan modifikasi dari oesophagus. Fungsi utama tembolok adalah untuk menyimpan pakan sementara, terutama pada saat ayam makan dalam jumlah banyak(Yuwanta, 2008). Berdasarkan hasil penimbangan dalam praktikum, diketahui tembolok ayam A memiliki  berat 8,8 gram dan tembolok ayam B memiliki berat  5 gram. Menurut Neil (1991), berat crop adalah 8 sampai 12 gram. Berat tembolok ayam A berada pada kisaran normal sedangkan berat tembolok ayam B di bawah kisaran normal jika dibandingkan dengan literatur. Menurut Yuwanta (2008), perbedaan ukuran alat pencernaan pada ayam tergantung pada umur dan jenis ayam.
 Proventriculus. Proventrikulus merupakan perut kelenjar atau succenturiate ventricle atau glandular stomach yang mengekskresikan pepsinogen dan HCl untuk mencerna protein dan lemak (Yuwanta, 2008). Berdasarkan hasil pengukuran dan penimbangan dalam praktikum diketahui bahwa proventriculus ayam A memiliki panjang 11 cm dan berat 6 gram sedangkan  proventriculus ayam B memiliki panjang 3 cm dan 7 gram. Menurut Neil (1991), proventriculus memiliki panjang 6 cm dengan berat 7,5 sampai 10 gram. Panjang proventriculus ayam A berada di atas kisaran normal sedangkan beratnya berada di bawah kisaran normal. sedangkan  Proventriculus ayam B memiliki panjang di bawah kisaran normal sedangkan beratnya mendekati kisaran normal jika dibandingkan dengan literatur. Menurut Yuwanta (2008), perbedaan ukuran pada alat pencernaan ayam ini tergantung pada umur dan jenis ayam.
Gizzard. Empedal (gizzard) disebut juga perut muscular (muscular stomach) yang merupakan perpanjangan dari proventrikulus. Fungsi utamanya untuk memecah / melumat  pakan dan mencampur dengan air pasta yang disebut chymne. Ukuran dan kekuatan empedal dipengaruhi oleh kebiasan makan dari ayam tersebut. Empedal mengekskresikan coilin yang berfungsi melindungi permukaan empedal terhadap kerusakan yang mungkin disebabkan oleh pakan (Yuwanta, 2008). ). Berdasarkan hasil penimbangan dalam praktikum, diketahui gizzard ayam A memiliki berat 21,4 gram sedangkan ayam B 33 gram. Menurut Goodman (1991), berat gizzard adalah 25 sampai 40 gram. Gizzard ayam A memiliki berat di bawah kisaran normal sedangkan ayam B berada pada kisaran normal jika dibandingkan dengan literatur. Menurut Yuwanta (2008), perbedaan ukuran alat pencernaan pada ayam tergantung pada umur dan jenis ayam.
           Small intestine. Usus halus disebut juga intestinum tenue, panjangnya mencapai 120 cm. Usus halus terbagi menjadi tiga bagian yaitu duodenum, jejunum, dan ileum (Yuwanta, 2008). Menurut Swenson dan Recie(1993), panjang total usus halus adalah 126,5 cm. Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi saluran pencernaan yaitu ACTH yang dapat menyebabkan penurunan dalam pencernaan bahan kering, protein, energi kotor, dan karbohidrat, sedangkan kecernaan lemak tidak terpengaruh. Pencernaan nutrisi ini terpengaruh lebih dari penyerapan selama periode stres. (Puvadolpirod dan Thaxton, 2000)
Duodenum. Duodenum terdapat pada bagian yang paling atas dari usus halus, dan panjangnya mencapai 24 cm. Di dalam duodenum terjadi pencernaan yang paling aktif dengan proses hidrolisis dari nutrien kasar berupa pati, lemak, dan protein (Yuwanta, 2008). Berdasarkan hasil pengukuran dan penimbangan dalam praktikum diketahui bahwa panjang duodenum ayam A adalah 30 cm. Panjang duodenum ayam B adalah 53 cm. Berat duodenum ayam A adalah 5,8 gram, sedangkan berat duodenum ayam B adalah 10 gram. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa panjang duodenum ayam A dan B tidak berada pada kisaran normal bila dibandingkan dengan literatur. Menurut Yuwanta (2008), perbedaan ukuran alat pencernaan pada ayam tergantung pada umur dan jenis ayam.
Jejunum. Jejunum merupakan kelanjutan dari duodenum yang fungsinya sama dengan duodenum. Terjadi pencernaan dan penyerapan zat makanan yang belum diselesaikan oleh duodenum dilanjutkan sampai tinggal bahan yang tidak dapat dicerna (Yuwanta, 2008). Berdasarkan hasil pengukuran dan penimbangan dalam praktikum, diketahui bahwa panjang dan berat jejunum ayam A berturut-turut adalah 75 cm dan 11 gram, sedangkan panjang dan berat jejunum ayam B masing-masing adalah 30 cm dan 4 gram. Menurut Yuwanta (2008), perbedaan ukuran alat pencernaan pada ayam tergantung pada umur dan jenis ayam.
            Ileum. Ileum mempunyai banyak vili-vili untuk memperluas bidang penyerapan. Batas antara jejunum dengan ileum berupa tonjolan kecil yakni micelle diverticum. Ileum merupakan kelanjutan dari duodenum yang fungsinya sama dengan duodenum. Pencernaan dan penyerapan zat makanan yang belum diselesaikan oleh duodenum dilanjutkan sampai tinggal bahan yang tidak dapat dicerna (Yuwanta, 2008). Berdasarkan hasil pengukuran dan penimbangan dalam praktikum, diketahui bahwa panjang dan berat ileum pada ayam A berturut-turut adalah 63 cm dan 7,2 gram sedangkan panjang dan berat ileum pada ayam B adalah  59 cm dan 8 gram. Menurut Zuprizal (2005), berat ileum adalah 15 gram. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa ayam A dan B tidak sesuai dengan literatur. Menurut Yuwanta (2008), perbedaan ukuran alat pencernaan pada ayam tergantung pada umur dan jenis ayam.
           Coecum. Sekum terdiri atas dua seka atau saluran buntu yang berukuran panjang 20 cm. Beberapa nutrien yang tidak tercerna mengalami dekomposisi oleh mikrobia sekum, tetapi jumlah dan penyerapannya kecil sekali (Yuwanta, 2008). Berdasarkan hasil pengukuran dan penimbangan dalam praktikum, diketahui bahwa panjang coecum ayam A dan B berturut-turut adalah 38 cm dan 30 cm, sedangkan berat masing-masing ayam A dan B adalah 5,2 gram dan 5 gram.  Panjang coecum ayam A dan B tidak sesuai dengan literatur. Menurut Yuwanta (2008), perbedaan ukuran alat pencernaan pada ayam tergantung pada umur dan jenis ayam.
 Usus besar. Usus besar(rektum) dinamakan juga intestinum crasum (panjang 7cm).Terjadi perombakan parikel pakan yang tidak tercerna oleh mikroorganisme menjadi fese pada bagian ini. Pada bagian ini juga bermuara ureter dari ginjal untuk membuang urine ynag bercampur dengan feses sehingga feses unggas dinamakan ekskreta (Yuwanta, 2008). Panjang usus besar ayam A dan B adalah 13 cm dan 9 cm sedangkan berat usus besar ayam A dan B masing-masing adalah 3,6 gram dan 2,5 gram. Menurut  Yuwanta (2008) panjang rektum 7 cm sedangkan menurut Akoso (1998), berat normal rektum adalah 4 sampai 6 gram. Panjang usus besar ayam A dan B di atas kisaran normal, sedangkan berat usus besar ayam A dan B masih di bawah kisaran normal bila dibandingkan dengan literatur. Menurut Yuwanta (2008), perbedaan ukuran alat pencernaan pada ayam tergantung pada umur dan jenis ayam.
Kloaka. Kloaka merupakan tempat keluarnya ekskreta karena urodeum dan cuprodeum terletak berhimpitan. Urodeum merupakan saluran urine, cuprodeum merupakan saluran pencernaan, sedangkan protodeum merupakan saluran pembuangan sehingga berhubungan dengan anus serta tempat keluarnya ekskreta (Yuwanta, 2008). Berdasarkan hasil penimbangan dalam praktikum, diketahui bahwa berat kloaka ayam A dan B masing-masing adalah 3,6 dan 10 gram. Menurut Neil (1991), berat kloaka adalah antara 6 sampai 8 gram. Berat kloaka ayam A masih jauh di bawah kisaran normal sedangkan berat kloaka ayam B berada di atas kisaran normal. Menurut Yuwanta (2008), perbedaan ukuran alat pencernaan pada ayam tergantung pada umur dan jenis ayam.

Organ Tambahan
Hati. Hati (berat 3% bobot badan) mensekresikan getah empedu yang disalurkan ke dalam duodenum. Fungsi dari getah empedu sebagai penetral asam lambaung (HCl), membentuk sabun terlarut dengan asam lemak bebas. Kedua fungsi ini membantu dalam absorbsi dan translokasi asam lemak (Yuwanta, 2008). Berdasarkan hasil penimbangan dalam praktikum, diketahui bahwa berat hati ayam A dan B berturut-turut adalah 26,8 gram dan 56 gram, sedangkan berat ayam A dan B adalah 1266 gram dan 1557 gram. Menurut Yuwanta (2008), berat hati adalah 3% dari berat badan. Jika dibandingkan dengan berat tubuh maka berat hati ayam A 2,11% dari berat tubuh, sedangkan berat hati ayam B 3,6% dari berat tubuh. Hasil penimbangan menunjukkan bahwa berat hati tidak berada pada kisaran normal tetapi cenderung mendekati kisaran normal. Menurut Yuwanta (2008), perbedaan ukuran organ pencernaan pada ayam tergantung pada umur dan jenis ayam.
Pankreas. Pankreas mensekresikan getah pankreas (pancreatic juice) yang berfungsi dalam pencernaan pai, lemak dan protein. Di samping mensekresikan getah pankreas juga mensekresikan insulin. Pankreas mempunyai dua fungsi yang semuanya berhubungan dengan penggunaan energi ransum, yaitu eksokrin dan endokrin. Berat pankreas ayam A dan B adalah 2,8 dan 2 gram. Menurut Yuwanta (2008), perbedaan ukuran organ pencernaan pada ayam tergantung pada umur dan jenis ayam.
Limfa. Limfa berfungsi memecah sel darah merah dan sel darah putih. Makanan unggas, terutama protein kasar dalam pakan akan mengalami degradasi. Berat dari limfa ayam A dan B adalah 1,2 gram dan 5 gram. Menurut Yuwanta (2008), perbedaan ukuran organ pencernaan pada ayam tergantung pada umur dan jenis ayam.


Sistem Reproduksi Ayam Betina
Anatomi alat reproduksi ayam betina terdiri atas dua bagian utama, yaitu ovarium dan oviduct. Ovarium adalah tempat sintesis hormon steroid seksual, gametogenesis dan perkembangan serta pemasakan kuning telur (folikel). Oviduk adalah tempat menerima kuning telur masak, sekresi putih telur dan pembentukan kerabang telur. Pada unggas, umumnya pada ayam, hanya ovarium kiri yang berkembang dan berfungsi, sedangkan yang bagian kanan mengalami rudimeter(Yuwanta, 2008).
Ovarium dan ovum. Ovarium pada unggas dinamakan juga folikel. Bentuk ovarium sperti buah anggur dan terletak pada rongga perut berdekatan dengan ginjal kiri dan bergantung pada  ligamentum meso-ovarium (Yuwanta, 2008). Berdasarkan hasil penimbangan dalam praktikum, diketahui bahwa ovarium ayam A dan B memiliki berat masing-masing yaitu 28 dan 1 gram. Menurut Sidadolog (1991), berat ovarium unggas dewasa adalah antara 40 sampai 60 gram. Ovarium ayam A dan B memiliki berat yang masih jauh di bawah kisaran normal. Perbedaan tersebut dapat disebabkan oleh pakan yang dikonsumsi, umur dan kesehatan (Blakely dan Bade, 1991). Banyak faktor yang mempengaruhi produksi telur pada industri unggas, yaitu Nicarbazin (NCZ) merupakan  obat anticoccidial secara rutin digunakan dalam industri unggas yang berdampak negatif terhadap reproduksi karena dapat  mengurangi produksi telur, berat telur, dan daya tetas telur. Mekanisme molekuler dimana NCZ mempengaruhi reproduksi tidak diketahui. Lipoprotein lipase, vitellogenin, transglutaminase, dan kalsium semua terlibat dalam pembentukan telur dan embriogenesis. Oleh karena itu, uji in vitro digunakan untuk mengevaluasi 4 mekanisme potensial aksi NCZ pada pembentukan telur dan embriogenesis. Pengujian yang dilakukan meliputi uji lipoprotein lipase, uji fosforilasi vitellogenin dan aktivitas transglutaminase (Yoder et al., 2006).
Infundibulum. Panjang infundibulum atau papilon adalah 9 cm. Infundibulum berfungsi untuk menangkap ovum yang diovulasikan dan merupakan tempat terjadinya fertilisasi. Kuning telur berada di bagian ini selama 15-30 menit (Yuwanta, 2008). Berdasarkan hasil pengukuran dan penimbangan dalam praktikum, diketahui bahwa panjang infundibulum ayam A dan B masing-masing adalah 17 cm dan 4 cm, sedangkan berat infundibulum ayam A dan B masing-masing adalah 2 gram dan 1,6 gram. Perbedaan tersebut dapat disebabkan oleh pakan yang dikonsumsi, umur dan kesehatan (Blakely dan Bade, 1991).
Magnum. Magnum merupakan bagian terpanjang dari oviduk (33cm). Magnum tersusun dari glandula tubuler yang sangat sensibel. Sintesis dan sekresi sel telur terjadi di sini. Mukosa dari magnum tersusun dari sel gobelet. Proses sintesis albumen di magnum berlangsung selama 3,5 jam (Yuwanta, 2008). Berdasarkan hasil pengukuran dan penimbangan dalam praktikum, diketahui bahwa panjang magnum ayam A dan B  masing-masing adalah 29 cm dan 31 cm, sedangkan berat  magnum ayam A dan B  masing-masing adalah 24 gram dan 1 gram. Perbedaan tersebut dapat disebabkan oleh pakan yang dikonsumsi, umur dan kesehatan (Blakely dan Bade, 1991).

Isthmus. Isthmus mensekresikan membran atau selaput telurpanjang saluran isthmus adalah 10 cm dan telur berada di sini sekitar 1 jam 15 menit sampai 1,5 jam.  Berdasarkan hasil pengukuran dan penimbangan dalam praktikum, diketahui bahwa isthmus ayam A dan B memiliki panjang masing-masing 14 dan 5,8 cm, sedangkan berat isthmus ayam A dan B masing-masing adalah 5,4 gram dan 5,8 gram. Menurut Yuwanta (2008), isthmus memiliki panjang sekitar 10 cm. Panjang isthmus kedua ayam masih belum sesuai dengan kisaran normal. Menurut Blakely dan Bade (1991), perbedaan tersebut dapat disebabkan oleh pakan yang dikonsumsi, umur dan kesehatan.
Uterus. Uterus disebut juga glandula kerabang telur berfungsi untuk pembentukan kerabang telur sehingga prosesnya paling lama yakni 21 jam. Panjang uterus adalah sekitar 10 cm (Yuwanta, 2008). Berdasarkan hasil pengukuran dan penimbangan dalam praktikum, diketahui bahwa panjang uterus ayam A dan B adalah 6 cm dan 5 cm, sedangkan berat ayam A dan B adalah 1,6 gram dan 2 gram. Panjang uterus ayam A dan B masih belum sesuai dengan kisaran normal jika dibandingkan dengan literatur. Perbedaan tersebut dapat disebabkan oleh pakan yang dikonsumsi, umur dan kesehatan (Blakely dan Bade, 1991).
Vagina. Vagina merupakan tempat keluar telur hasil pembentukan telur oleh organ reproduksi. Pada bagian ini hampir tidak terdapat sekresi di dalam pembentukan telur, kecuali pembentukan kultikula. Telur sangat singkat melewati vagina yaitu hanya 3 menit. Panjang vagina adalah sekitar 10 cm (Yuwanta, 2008). Berdasarkan hasil pengukuran dan penimbangan dalam praktikum, diketahui bahwa panjang vagina ayam A dan B masing-masing adalah 10 cm dan 3 cm, sedangkan berat keduanya masing-masing adalah 18 gram dan 3 gram. Panjang vagina ayam A berada pada kisaran normal, sedangkan panjang vagina ayam B maih di bawah kisaran normal. Perbedaan tersebut dapat disebabkan oleh pakan yang dikonsumsi, umur dan kesehatan (Blakely dan Bade, 1991).

Kloaka. Kloaka merupakan tempat keluarnya ekskreta karena urodeum dan cuprodeum terletak berhimpitan. Urodeum merupakan saluran urine, cuprodeum merupakan saluran pencernaan, sedangkan protodeum merupakan saluran pembuangan sehingga berhubungan dengan anus serta tempat keluarnya ekskreta (Yuwanta, 2008). Berdasarkan hasil penimbangan dalam praktikum, diketahui bahwa berat kloaka ayam A dan B masing-masing adalah 3,6 dan 10 gram. Menurut Neil (1991), berat kloaka adalah antara 6 sampai 8 gram. Berat kloaka ayam A masih jauh di bawah kisaran normal sedangkan berat kloaka ayam B berada di atas kisaran normal. Menurut Yuwanta (2008), perbedaan ukuran alat pencernaan pada ayam tergantung pada umur dan jenis ayam.


Sistem Reproduksi Jantan
Sistem reproduksi ayam jantan berbeda dengan ayam betina. Alat reproduksi ayam jantan dibagi dalam tiga bagian utama yaitu aepasanag testis, sepasang saluran deferens dan kloaka (Yuwanta, 2008).
Testis. Testis ayam jantan terletak di rongga badan dekat tulang belakang, melekat pada bagian dorsal dari rongga abdomen dan dibatasi oleh ligamentum mesorchium, berdekatan dengan aorta dan vena cavar, atau di belakang paru-paru bagian depan dari ginjal. Meskipun dekat dengan rongga udara, temperatur testis selalu 41o sampai 43o C karena spermatogenesis (pembentukan sperma) akan terjadi pada temperatur tersebut (Yuwanta, 2008).
Testis ayam berbentuk biji buah buncis dengan warna putih krem. Testis terbungkus oleh dua lapisan tipis transparan, lapisan albugin yang lunak. Bagian dalam dari testis terdiri atas tubuli seminiferi (85% sampai 95% dari volume testis), yang merupakan tempat terjadinya spermatogenesis, dan jaringan intertitial yang terdiri atas sel glanduler (sel Leydig) tempat disekresikannya hormon steroid, androgen, dan testosteron. Besarnya testis tergantung pada umur, strain, musim, dan pakan (Yuwanta, 2008). 
Saluran Deferens. Menurut Yuwanta (2008), saluran deferens dibagi menjadi dua bagian, yaitu bagian atas yang merupakan muara sperma dari testis, serta bagian bawah yang merupakan perpanjangan dari saluran epididimis dan dinamakan saluran deferens. Saluran deferens ini akhirnya bermuara di kloaka pada daerah proktodeum yang berseberangan dengan urodium dan koprodeum. Di dalam saluran deferens, sperma mengalami pemasakan dan penyimpanan sebelum diejakulasikan. Pemasakan dan penyimpanan sperma terjadi pada 65% bagian distal saluran deferens.
Alat Kopulasi. Alat kopulasi pada ayam berupa papila (penis) yang mengalami rudimenter, kecuali pada itik berbentuk spiral yang panjangnya 12 sampai 18 cm. Pada papila ini juga diproduksi cairan transparan yang bercampur dengan sperma saat terjadinya kopulasi (Yuwanta, 2008). Papila yang di amati pada praktikum adalah papila bebek, karena papilanya lebih berkembang daripada papila ayam jantan. Berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan, dapat diketahui bahwa warna papila putih dan elastis.

Mekanisme Spermatogenesis
Spermatogenesis adalah proses pembentukan sel sperma yang terjadi di epitelium (tubuli) seminiferi di bawah kontrol hormon gonadotropin dan hipofisis (pituitaria bagian depan). Tubuli seminiferi ini terdiri atas sel sertoli dan sel germinalis. Spermatogenesis terjadi dalam tiga fase, yaitu fase spermatogineal, fase meiosis, dan fase spermiogenesis yang membutuhkan waktu 13 -14 hari (Yuwanta, 2008).



KESIMPULAN

            Berdasarkan hasil pengamatan, pengukuran serta penimbangan terhadap sistem digesti dan reproduksi ayam betina yang telah telah diselesaikan dalam praktikum, dapat disimpulkan bahwa anatomi sistem digesti pada unggas meliputi mulut/paruh, oesophagus, crop (tembolok), proventriculus, gizzard (empedal/ventrikulus), small intestinum yang terdiri atas duodenum, jejunum, dan ileum, coecum, usus besar(rektum), dan kloaka. Alat reproduksi ayam betina meliputi dua bagian utama, yaitu ovarium dan oviduct, sedangkan alat reproduksi ayam jantan dibagi dalam tiga bagian utama yaitu aepasanag testis, sepasang saluran deferens dan kloaka. Masing-masing alat pencernaan dan reproduksi pada ayam mempunyai ukuran, berat dan fungsi yang berbeda, hal ini dipengaruhi oleh pakan yang dikonsumsi, umur jenis dan kesehatan.




DAFTAR PUSTAKA

Akoso, B. T. 1998. Kesehatan Unggas. Kanisius. Yogyakarta.
Blakely, J and Bade, D.H. 1991. Ilmu Peternakan, Edisi IV, Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Goodmann, H. D. 1991. Biology Laboratory Inversatium Java. Novich Put Orlando.
Neil, A. C. 1991. Biology 2nd edition. The Benjamin Coming Publishing Company Inc. Pec Wood City.
Puvadolpirod, S. and J. P. Thaxton. 2000. Model of Physiological Stress in Chickens 4. Digestion and Metabolism1,2. Department of Poultry Science, Mississippi State University, Mississippi State, Mississippi 39762
Sidadolog J.P.H. 2001. Manajemen Ternak Unggas. Fakultas Peternakan UGM. Yogyakarta.
Swenson, M. J. dan Recie, W. O. 1993. Dukes’ Physioloogy of Domestic Animals. 11th edition. Comstok Publishing Associates a division of Cornell University Press. Ithaca.
Yoder,  C. A., J. K. Graham, and L. A. Miller. 2006. Molecular Effects of Nicarbazin on Avian Reproduction. National Wildlife Research Center, 4101 LaPorte Avenue, Fort Collins, Colorado 80521-2154; Department of Biomedical Sciences/Physiology, Colorado State University, Fort Collins 80523
Yuwanta, Tri. 2008. Dasar Ternak Unggas. Cetakan ke 5. Kanisius. Yogyakarta.
Zuprizal dan Kamal. M. 2005. Nutrisi Pakan Unggas. Fakultas Peternakan UGM. Yogyakarta.






Tidak ada komentar:

Poskan Komentar